Tiba-tiba saja aku jadi jadi marah melihat semua saluran siaran televisi. Satu saluran sedang menayangkan sinetron yang sebagian besar menceritakan keculasan, keiridengkian dan ketamakan terhadap harta. Pindah ke saluran lain, sama saja. Tayangan siaran langsungnya tentang korupsi dan penyalahgunaan kewenangan kekuasaan. Satu pihak berperan sebagai kelompok membela rakyat, pihak lain adalah tertuduh karena telah menyalahgunakan uang rakyat. Semuanya seakan betul. Pembela rakyat pasti betul karena mereka berbuat demi bangsanya. Pihak tertuduh juga begitu meyakinkan bahwa apa yang diperbuatnya memang sudah sesuai dengan perundang-undangan yang ada. Aku yakin banyak yang senang karena ada gambaran bahwa hukum memang sedang seakan ditegakkan. Belum lagi tayangan saluran lain menggambarkan dalam penjara ada yang bisa membangun istana. Semua pihak yang diberi kewenangan menjalankan hukum seakan tergadai moral dan harga dirinya demi uang. Duh. Pusing aku. Karena ada juga yang menyatakan bahwa kondisi itu masih wajar.
Beruntung negaraku cukup makmur. Aku masih bisa pindah ke saluran lain. Ceritanya tentang negara menghukum orang karena mencuri. Mencuri untuk megisi perut karena lapar. Hukumannya cukup membuatnya jera untuk tidak mencuri lagi. Tapi ada juga tayangan tentang seorang mencuri uang negara yang cukup memberi makan orang sekampung selama tujuh turunan. Hukumannya tidak berat-berat amat. Bukan hanya dirinya yang tidak akan jera karena hukuman itu. Calon pencoleng uang negara lain juga sudah dapat menghitung untung rugi menjarah uang negara berkualifikasi kakap. Walau dihukum pasti tetap untung. Memang korupsi adalah perbuatan yang untungnya besar sedang resikonya kecil. Bahkan ada yang menyatakan bahwa korupsi sudah membudaya. Benarkah bangsaku sudah berbudayakan korupsi. Nggak mungkin.
Masih dari televisi. Pemimpin besar bangsa lain yang jelas rakyatnya makmur, negaranya kaya dan kepastian hukum ada menggunakan mobil mewah. Pemimpinku yang tidak begitu besar-besar kali dan jelas baru saja bekerja, harga mobilnya jauh lebih mahal dari pemimpin negara lain yang jelas telah mensejahterakan rakyatnya. Aku tidak tahu apa harus bangga atau harus malu. Bangga karena pemimpinku difasilitasi bangsanya dengan amat baik. Malu, ternyata pemimpinku tidak punya malu karena rakyatnya masih banyak yang melarat tetapi dia tega bermewah-mewah. Bukankah ada kalimat agung dalam dasar negaraku menyatakan Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
Karena sangat penasaran, aku segera membalik kamus Bahasa Indonesia 2008. Kamus itu mendefinisikan bahwa berbudaya adalah bila pikiran dan akal budi (fikiran sehat) sudah maju. Ajaran agama apapun dan akal sehat siapapun jelas tidak membenarkan perilaku korup. Karena korup itu jelas menggambarkan sesuatu yang buruk, rusak, busuk, suka menerima uang sogok atau dapat disogok. Kalau banyak tingkah polah masyarakat yang korup, apakah itu pertanda bangsa ini belum maju. Pasti tidak.
Masih dari kamus itu aku lihat kata beradab. Beradab artinya tingkat kehidupan lahir dan bathin, moral maupun material sudah maju. Kalau begitu definisinya, bangsa ini pasti belum beradab. Tentu saja aku makin marah bila didefinisikan sebagai bangsa yang tidak berbudaya dan tidak beradab. Tidak betul semua itu. Yang ditayangkan ditelevisi itu pasti salah. Definisi dalam kamus itupun pasti salah. Bangsaku beradab, dan berbudaya luhur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar