Sabtu, 26 Februari 2011

Mangga

Mangga merupakan komoditas perdagangan internasional dan dibudidayakan secara luas di dunia. India merupakan penghasil mangga terbesar dengan produksi mencapai 13,5 juta ton. Indonesia baru mampu menghasilkan sekitar 1,6 juta ton. Mangga masak memiliki daging buah berwarna kuning, krem hingga merah jingga. Lembut, berserat dan penuh sari buah. Lezat, sehingga dalam kitab suci agama Hindu mangga dianggap sebagai hidangan para dewa. Mangga bukan hanya dimakan bila masak, bahkan dari putikpun mangga sudah bisa jadi santapan. Manisan mangga juga sudah lama jadi cemilan kegemaran banyak orang.
Medan mempunyai hubungan sejarah panjang dengan mangga. Belanda telah menjadikan mangga sebagai tanaman peneduh yang masih bisa dinikmati kerindangan dan buahnya sampai sekarang. Batang mangga berupa pohon besar, berdiri tegak, kokoh, bercabang kuat, berdaun lebat dengan tajuk rapat yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Cocok sebagai peneduh. Pohon mangga dapat mencapai tinggi 50 m atau lebih. Contohnya, pohon mangga di depan kantor DPRDSU masih berdiri kokoh dan produktif sampai sekarang. Dulunya di jalan listrik juga banyak pohon mangga. Selain mangga, Belanda juga menanam mahoni, asam jawa, bunga tanjung dan trembesi. Kayu mangga walau cukup kuat, keras dan mudah dikerjakan, tapi tidak sesuai untuk dijadikan bahan bangunan. Kalau tidak, nasibnya sudah sama dengan pohon mahoni yang tumbuh sepanjang jalan SM Raja dan juga sepanjang jalan Tebing Tinggi hingga Parapat. Dibabat dengan  restu dan bukan tak mungkin sedikit keuntungan bagi pejabat. 
Mangga, bukan hanya buahnya yang bermanfaat. Kerimbunan tajuknya memang efektif sebagai peneduh. Fakta juga menunjukkan bahwa setelah bencana Tsunami melanda Pantai Barat Sumatera, mangga merupakan tumbuhan yang mampu bertahan mengalami terjangan Tsunami disamping bambu, kelapa, pinang dan kayu Laban. Tak lama setelah hantaman Tsunami, mangga yang tumbuh di sepanjang pantai Meulaboh berbuah lebat. Mangga bisa bertahan dihantam Tsunami karena memiliki akar tunggang yang bercabang-cabang, sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m. Akar cabang makin ke bawah semakin sedikit. Paling banyak akar cabang mulai pada kedalaman lebih kurang 30-60 cm. Sehingga akar batangnya tidak muncul dipermukaan tanah. Mangga juga merupakan tanaman yang mudah tumbuh, mulai dari pantai hingga pegunungan. Perhatikan saja, di seluruh halaman pekarangan penduduk di Sumatera Utara tanaman terbanyak adalah  mangga. Di halaman gedung DPRD Kisaran mangga dijadikan tamanan peneduh utama. Indah, teduh dan punya nilai ekonomis tinggi. Di perumahan Sijambi Tanjung Balai, seluruh halaman rumah memiliki tanaman peneduh jenis mangga. Rimbun dan melezatkan bila berbuah. Satu-satunya pohon peneduh di Kantor Bupati Tobasa yang efektif hanya mangga. 
Di Indonesia kita bisa menemukan 40 hingga 70 jenis mangga. Rasa dan kelezatannya berbeda. Mangga apel, mempelam, kueni, ambacang, harum manis, indramayu, golek, lok mai dan  primadonanya tentu mangga udang atau mangga Samosir. Lok mai, arum manis dan mangga golek itu lezat, tetapi seratnya kurang. Hampir tak beda dengan makan agar-agar atau jeli rasa mangga. Mangga udang ukurannya kecil, manis, berserat dan ada sedikit rasa asam. Mangga udang mudah sekali tumbuh dan pohonnya luar biasa rindang, Mampu menjadi peneduh dan memasok buah hingga puluhan tahun. Makan mangga udang tidak perlu pisau. Kupas kulitnya pakai gigi, nikmati daging buahnya. Bijinya jangan dibuang. Masukkan dalam polybag. Enam bulan sudah bisa pindah ke tanah. Lima tahun buahnya sudah bisa dinikmati. Produksi terbanyak mangga udang berasal dari Samosir. Yakinlah, setiap mangga udang yang masuk dalam perdagangan pasar saat ini adalah jerih payah nenek moyang yang menanamnya puluhan tahun lalu. Walau menanam mangga mudah, kita tidak dapat menemukan pohon mangga yang belum berbuah di sekeliling wilayah Danau Toba. Dengan kata lain, tidak ada tanaman mangga hasil budidaya generasi sekarang. Tidak ada yang punya kebanggaan dan berminat mengembangkan serta   melestarikan tanaman yang luar biasa lezatnya itu.
Saya punya kesempatan berkeliling dari sekolah ke sekolah serta dari kantor ke kantor di berbagai wilayah Sumatera Utara. Saya menganjurkan agar setiap lahan kosong, tanami dengan mangga. Mungkin karena malas, ada pendidik yang menyatakan tidak mau menanam mangga karena takut nanti dipanjat anak-anak. Tidak tahu dia bahwa memanjat juga masuk pelajaran ketrampilan luar sekolah. Jatuh dan luka, itulah rapornya. Nanti ada yang mencurinya, kata yang lain lagi. Sangat negatif pandangannya terhadap sang murid. Mungkin dia salah mengajar. Dia tidak tahu bahwa buah mangga adalah sumber vitamin C. Kalau mangga berbuah dan dimakan muridnya, baik masih muda atau sudah masak, tidak ada salahnya. Bila seluruh halaman sekolah dan halaman pekarangan sudah ditanami dan memproduksi mangga, tentu tidak ada pencuri mangga.
Sebuah perusahaan rokok membagikan bibit mangga arummanis secara gratis di Kudus. Upaya ini diawali tahun 1984 dengan membangun dan membagikan bibit gratis kepada masyarakat. Hasil panen dibeli. Masyarakat merasa terpanggil untuk menjadikan Kudus sebagai kota yang diteduhi kerimbunan pohon mangga. Hasil panen mangga dapat meningkatkan perekonomian disamping tercapainya tujuan utama memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Medan merasakan komitmen masyarakat Kudus menghijaukan kotanya dengan tanaman mangga, karena sekarang kita dapat menikmati lezatnya mangga arummanis yang relatif murah. Mengapa kita tidak mulai dari sekarang menanam mangga udang, sehingga porsi arunmanis mulai dapat kita rebut kembali di menu makanan kita. Mulai juga dengan pembibitan mangga. Bagikan secara gratis. APBD pasti bisa mendukung, asal hasilnya jelas. Tidak perlu malu meniru yang baik. Bila memang harus, awali saja dengan program studi banding. Tapi hasilnya harus ada.
Seandainya walikota Medan terpilih dan dilantik tahun 2010 ini mengawali kerjanya dengan mengajak masyarakat Medan menanam mangga di setiap lahan yang masih mungkin ditanami, berarti dia telah mulai memenuhi kewajibannya meningkatkan ruang terbuka hijau dari saat ini 5% menjadi 30%. Lima tahun yang akan datang, Medan yang rimbun serta memiliki industri jus mangga dan siap jadi pengekspor buah mangga tentu tidak dapat menolaknya untuk jabatan periode kedua. Medan, Deli Serdang, Langkat, Samosir dan di seluruh Sumatera Utara bisa dihijaukan tanaman mangga dengan jenis spesifik untuk tiap daerah. Dinas Pertanian ditugaskan untuk mengawasi sebaran penyakitnya bila muncul. Dinas Perindustrian memfasilitasi industri jus mangga. Dinas Perdagangan urusi masalah ekspornya, paling tidak mengalahkan Thailand di Asia. Dinas Pariwisata menjual informasi bahwa disamping keindahan dan banyaknya objek wisata menarik, penggemar mangga akan masuk dalam surga kenikmatan rasa mangga. Semua bisa buat program berbasiskan mangga. Semoga.(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar