Sabtu, 26 Februari 2011

HUMOR, PERLU ITU

Menurut kamus bahasa Indonesia 2008, humor adalah kemampuan merasai sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Humor dinyatakan  sebagai keadaan yang mengelikan hati, kejenakaan atau kelucuan. Kemampuan seseorang “menikmati” humor sangat ditentukan  oleh penghayatannya terhadap kehidupan dan pengalaman emosionalnya. Salah satu obat stress yang paling ampuh adalah humor. Humor dapat mengelitik hati, sehingga membuat orang senang dan tertawa. Tetapi tidak setiap tertawa disebabkan karena rasa senang. Tergelitik badan orang juga dapat membuat orang tertawa, tetapi jelas tidak menyenangkan. Tanpa ada yang lucu atau menyenangkan,  dapat menyebabkan orang yang terhirup gas ketawa jadi terbahak-bahak. Namun jelas tidak menyehatkan. Tawa yang terjadi spontan dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Tidak heran bila semua orang sepakat bahwa  tertawa itu menyehatkan.
Kemampuan seseorang merasai sesuatu yang lucu dari suatu pembicaraan sangat tergantung kepada tingkat pendidikan, tingkat kecerdasan, latar belakang budaya, pengalaman hidup dan keterkaitannya dengan topik yang ditampilkan. Tidak semua humor dapat membuat orang tertawa. Bagi yang modern dan cerdas, mentertawakan dan ditertawakan itu sama-sama membuatnya senang. Sewaktu Gus Dur disuruh mundur, dengan seenaknya dia mengatakan: “Maju saja dituntun,  mundur ya susah.”  Ada seorang teman yang tenang-tenang saja dijadikan objek tertawaan. Bahkan dia sendiri juga ikut tertawa, sehingga orang yang menertawakan makin kuat tertawanya. Sewaktu ditanya alasannya ikut tertawa, dia menjawab: ”Mengapa saya tidak harus tertawa. Dengan sedikit kelucuan yang ada pada diri saya saja mereka sudah tertawa. Saya kasihan karena rasa humor mereka sangat rendah. Jadi sebenarnya saya juga sedang menertawakan mereka.”
Makin rendah tingkat pendidikan seseorang, makin rendah rasa humornya. Untuk membuat anak kecil tertawa, cukup dengan mengatakan,:” Ciluuuk ba,” sambil menggerakkan tangan di kedua kuping. Gerakkan dan ucapan sederhana itu dapat menyentuh saraf humornya, maka dia akan kekeh. Atau kita bisa pura-pura jatuh, dia juga akan tertawa. Dulu, Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. yang lebih dikenal sebagai Charlie Chaplin, terpaksa harus menggunakan jas sempit, celana kedodoran, pakai  tongkat dan memakai topi tinggi serta dilengkapi dengan kumis dan jalan yang sedikit “aneh”. Mulai dari anak-anak hingga orang tua menganggap gerak dan tingkahnya lucu. Mereka menikmati dan tertawa. Beda dengan Bob Hope yang kelahiran Inggris dan hijrah ke Amerika. Bob Hope membuat humor dengan kata. Salah satu kata-kata yang terkenal adalah: "I left England at the age of four when I found out I couldn't be king." Tentunya tidak semua orang bisa memahami dimana lucunya kata-kata itu.  Charlie masih tepat dikatakan sebagai badut, tapi Bob Hope mungkin pelawak, walau batas keduanya mungkin saja sangat tipis.
Humor, lawakan, banyolan, dagelan, sindiran, anekdot, joke atau berbagai istilah lain ujungnya memang diharapkan bisa membuat kelucuan dan mengundang tawa. Makin cerdas dan modern seseorang, makin tinggi kualitas humornya. Seorang Bos yang memiliki rasa humor yang tinggi bahkan menyalami orang yang menuduhnya korupsi. “Terima kasih, anda telah mengingatkan saya bahwa saya adalah orang terpilih di republik ini. Hanya sedikit orang yang punya kesempatan korupsi. Saya telah terpilih untuk melakukannya. Banyak yang ingin korupsi, tapi tidak punya kesempatan. Banyak yang punya kesempatan, tapi tidak ada yang bisa dikorupsi,” begitu katanya datar saja. Tidak terbayang sedikitpun bahwa dia sedang terancam KPK. Ada lagi pejabat yang sudah sangat lama menduduki jabatannya. Sewaktu ditanya apa alasannya sangat betah sebagai pimpinan, dia menjawab begini:” Saya sedang menambah pengalaman kerja.  Sebelum pensiun saya harus yakin bahwa sayalah orang yang paling berpengalaman dalam pekerjaan ini. Mana tahu kalau sudah pensiun nanti bisa jadi konsultan. Jadi pendapatan saya tetap ada. Bagi saya tidak penting pendapatan tetap. Yang paling utama adalah tetap berpendapatan.”
Tidak semua orang senang dijadikan objek humor. Orang sedari kecil selalu harus diperhatikan dan hidup manja, rasa humornya mungkin berkurang. Demikian juga dengan orang yang selalu berpura-pura, tawanya tidak akan pernah bisa lepas. Baginya tidak ada yang lucu. Syaraf tawanya putus. Sindiran dianggap menghina. Bagi yang merasa dirinya superkuasa, kritikan sedikit saja sudah bisa membuat kupingnya panas. Kritikan bisa dianggap pencemaran nama baik. Orang yang kurang pergaulan atau selalu disanjung akan berkurang rasa humornya. Bisa saja karena orang takut membuatnya tersinggung, sehingga selalu berbicara serius.  Jadilah hidupnya dalam dunia tanpa canda tawa, atau hanya sekedar humor kering karena hanya menertawakan orang laiu tanpa mampu menertawakan diri sendiri.
Indonesia punya puluhan sosok gudang tawa. Bing Slamet, Us US, Kang Ibing, Jalal, Bagio, Bagito, Patrio, Timbul, Nunung, hingga Tukul dan Sule. Banyak sekali untuk disebutkan. Mereka berhasil mengisi ruang fikiran kita bahwa mereka itu sumber lucu. Bila ditelusuri jejak kehidupan para pembersit tawa tersebut, kita akan menemukan kentalnya sebagian besar hidup mereka dengan permasalahan kehidupan. Charlie Chaplin juga begitu. Semua yang terjadi dalam kehidupannya sudah bisa dilihat hanya dari segi lucu-lucunya. Dalam dunia panggung wayang, inti cerita dan pesan kehidupan baru akan tampil setelah babak goro-goro berakhir. Para punakawan bertugas menyegarkan suasana. Biasanya setelah tawa meledak, kita akan merasa lega atau ada himpitan bathin yang seakan terlepas. Setelah suasana segar, fikiran jernih, kritikan dan bahkan cercaan dianggap mainan kata, maka orang baru bisa melihat kehidupan yang sesungguhnya. Bila dunia sudah mampu dilihat dari persepektif tawa, maka dunia tidak akan menertawakan kita. Pemimpin yang punya rasa humor baik, penerapan demokrasinya juga akan baik. Jangan jadi Fir’aun, candanya keterlaluan. Masa mau jadi Tuha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar