Sabtu, 26 Februari 2011

HUMOR, PERLU ITU

Menurut kamus bahasa Indonesia 2008, humor adalah kemampuan merasai sesuatu yang lucu atau menyenangkan. Humor dinyatakan  sebagai keadaan yang mengelikan hati, kejenakaan atau kelucuan. Kemampuan seseorang “menikmati” humor sangat ditentukan  oleh penghayatannya terhadap kehidupan dan pengalaman emosionalnya. Salah satu obat stress yang paling ampuh adalah humor. Humor dapat mengelitik hati, sehingga membuat orang senang dan tertawa. Tetapi tidak setiap tertawa disebabkan karena rasa senang. Tergelitik badan orang juga dapat membuat orang tertawa, tetapi jelas tidak menyenangkan. Tanpa ada yang lucu atau menyenangkan,  dapat menyebabkan orang yang terhirup gas ketawa jadi terbahak-bahak. Namun jelas tidak menyehatkan. Tawa yang terjadi spontan dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Tidak heran bila semua orang sepakat bahwa  tertawa itu menyehatkan.
Kemampuan seseorang merasai sesuatu yang lucu dari suatu pembicaraan sangat tergantung kepada tingkat pendidikan, tingkat kecerdasan, latar belakang budaya, pengalaman hidup dan keterkaitannya dengan topik yang ditampilkan. Tidak semua humor dapat membuat orang tertawa. Bagi yang modern dan cerdas, mentertawakan dan ditertawakan itu sama-sama membuatnya senang. Sewaktu Gus Dur disuruh mundur, dengan seenaknya dia mengatakan: “Maju saja dituntun,  mundur ya susah.”  Ada seorang teman yang tenang-tenang saja dijadikan objek tertawaan. Bahkan dia sendiri juga ikut tertawa, sehingga orang yang menertawakan makin kuat tertawanya. Sewaktu ditanya alasannya ikut tertawa, dia menjawab: ”Mengapa saya tidak harus tertawa. Dengan sedikit kelucuan yang ada pada diri saya saja mereka sudah tertawa. Saya kasihan karena rasa humor mereka sangat rendah. Jadi sebenarnya saya juga sedang menertawakan mereka.”
Makin rendah tingkat pendidikan seseorang, makin rendah rasa humornya. Untuk membuat anak kecil tertawa, cukup dengan mengatakan,:” Ciluuuk ba,” sambil menggerakkan tangan di kedua kuping. Gerakkan dan ucapan sederhana itu dapat menyentuh saraf humornya, maka dia akan kekeh. Atau kita bisa pura-pura jatuh, dia juga akan tertawa. Dulu, Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. yang lebih dikenal sebagai Charlie Chaplin, terpaksa harus menggunakan jas sempit, celana kedodoran, pakai  tongkat dan memakai topi tinggi serta dilengkapi dengan kumis dan jalan yang sedikit “aneh”. Mulai dari anak-anak hingga orang tua menganggap gerak dan tingkahnya lucu. Mereka menikmati dan tertawa. Beda dengan Bob Hope yang kelahiran Inggris dan hijrah ke Amerika. Bob Hope membuat humor dengan kata. Salah satu kata-kata yang terkenal adalah: "I left England at the age of four when I found out I couldn't be king." Tentunya tidak semua orang bisa memahami dimana lucunya kata-kata itu.  Charlie masih tepat dikatakan sebagai badut, tapi Bob Hope mungkin pelawak, walau batas keduanya mungkin saja sangat tipis.
Humor, lawakan, banyolan, dagelan, sindiran, anekdot, joke atau berbagai istilah lain ujungnya memang diharapkan bisa membuat kelucuan dan mengundang tawa. Makin cerdas dan modern seseorang, makin tinggi kualitas humornya. Seorang Bos yang memiliki rasa humor yang tinggi bahkan menyalami orang yang menuduhnya korupsi. “Terima kasih, anda telah mengingatkan saya bahwa saya adalah orang terpilih di republik ini. Hanya sedikit orang yang punya kesempatan korupsi. Saya telah terpilih untuk melakukannya. Banyak yang ingin korupsi, tapi tidak punya kesempatan. Banyak yang punya kesempatan, tapi tidak ada yang bisa dikorupsi,” begitu katanya datar saja. Tidak terbayang sedikitpun bahwa dia sedang terancam KPK. Ada lagi pejabat yang sudah sangat lama menduduki jabatannya. Sewaktu ditanya apa alasannya sangat betah sebagai pimpinan, dia menjawab begini:” Saya sedang menambah pengalaman kerja.  Sebelum pensiun saya harus yakin bahwa sayalah orang yang paling berpengalaman dalam pekerjaan ini. Mana tahu kalau sudah pensiun nanti bisa jadi konsultan. Jadi pendapatan saya tetap ada. Bagi saya tidak penting pendapatan tetap. Yang paling utama adalah tetap berpendapatan.”
Tidak semua orang senang dijadikan objek humor. Orang sedari kecil selalu harus diperhatikan dan hidup manja, rasa humornya mungkin berkurang. Demikian juga dengan orang yang selalu berpura-pura, tawanya tidak akan pernah bisa lepas. Baginya tidak ada yang lucu. Syaraf tawanya putus. Sindiran dianggap menghina. Bagi yang merasa dirinya superkuasa, kritikan sedikit saja sudah bisa membuat kupingnya panas. Kritikan bisa dianggap pencemaran nama baik. Orang yang kurang pergaulan atau selalu disanjung akan berkurang rasa humornya. Bisa saja karena orang takut membuatnya tersinggung, sehingga selalu berbicara serius.  Jadilah hidupnya dalam dunia tanpa canda tawa, atau hanya sekedar humor kering karena hanya menertawakan orang laiu tanpa mampu menertawakan diri sendiri.
Indonesia punya puluhan sosok gudang tawa. Bing Slamet, Us US, Kang Ibing, Jalal, Bagio, Bagito, Patrio, Timbul, Nunung, hingga Tukul dan Sule. Banyak sekali untuk disebutkan. Mereka berhasil mengisi ruang fikiran kita bahwa mereka itu sumber lucu. Bila ditelusuri jejak kehidupan para pembersit tawa tersebut, kita akan menemukan kentalnya sebagian besar hidup mereka dengan permasalahan kehidupan. Charlie Chaplin juga begitu. Semua yang terjadi dalam kehidupannya sudah bisa dilihat hanya dari segi lucu-lucunya. Dalam dunia panggung wayang, inti cerita dan pesan kehidupan baru akan tampil setelah babak goro-goro berakhir. Para punakawan bertugas menyegarkan suasana. Biasanya setelah tawa meledak, kita akan merasa lega atau ada himpitan bathin yang seakan terlepas. Setelah suasana segar, fikiran jernih, kritikan dan bahkan cercaan dianggap mainan kata, maka orang baru bisa melihat kehidupan yang sesungguhnya. Bila dunia sudah mampu dilihat dari persepektif tawa, maka dunia tidak akan menertawakan kita. Pemimpin yang punya rasa humor baik, penerapan demokrasinya juga akan baik. Jangan jadi Fir’aun, candanya keterlaluan. Masa mau jadi Tuha

KOK MEDAN BISA JADI KOTA PELANGGAN BANJIR?


Pertanyaan itu tentu saja muncul karena sekarang Medan dikenal sebagai pelanggan banjir. Banjir di kota Medan tidak lagi terkait dengan banjir siklus alami. Siklus alam dapat dihitung lima puluh tahunan, dua puluh tahunan, empat belas tahunan atau berapa saja yang secara teori memang sudah jadi kodrat alam, tetapi banjir di Medan dipastikan terjadi setiap ada hujan. Hujan di hulu, sungai meluap. Hujan di hilir, kampung tergenang. Tidak terhitung kerugian yang merundung masyarakat setiap ada banjir. Perabot rumah tangga rusak, kendaraan mogok karena mesin kemasukan air, BBM terbuang percuma karena macet,  atau tenaga dan waktu habis menguras air dari dalam rumah. Mungkin perlu dihitung dan diperbandingkan mana yang lebih banyak kerugian uang yang telah dikeluarkan masyarakat, atau besarnya dana yang belum dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi banjir secara tuntas.
Jakarta, Surabaya dan Semarang sebagai kota pantai selalu dilanda banjir karena letaknya memang sedikit saja di atas permukaan laut. Medan berbeda. Nienhuys telah menentukan titik nol kota Medan di ketinggian 25 meter diatas muka laut. Keberadaan kota Medan memang tidak bisa dipisahkan dari nama Yacobus Nienhuys yang masuk ke Kuala Deli tanggal 6 Juli 1863. Nienhuys datang atas undangan Said Abdullah Bilsagil yang sahabat Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk berinvestasi membangun Tanah Deli. Saat itu pusat interaksi sosial masyarakat adalah di daerah Labuhan yang tidak jauh dari muara Sei Deli. Labuhan memang sudah lama jadi kota pelabuhan Internasional, karena menurut catatan sejarah, sudah berbagai bangsa asing yang mengunjungi Tanah Deli sejak abad 14. Karena terlalu dekat dengan pantai dan dikhawatirkan terjadi banjir, Nienhuys memindahkan pusat interaksi sosial masyarakat Deli dari Labuhan ke dekat daerah pemukiman yang dibangun Guru Patimpus. Jadilah daerah Tanah Lapang Merdeka sebagai titik pusat kota Medan. Didirikanlah berbagai fungsi bangunan, mulai dari Jalan Putri Hijau hingga ke Avros di Kampung Baru.
Nienhuys tidak main-main. Bila kota pantai selalu akrab dengan banjir, Nienhyus tidak mau kota yang dibangunnya mengalami nasib yang sama. Pematangan lahan tapak kota dimulainya dengan membangun drainase. Drainase adalah saluran buangan air yang mengalirkan seluruh air yang tergenang. Bukan jadi sumber banjir karena selalu tersumbat. Keberadaannya bukan sekedar proyek. Tidak tanggung-tanggung. Dibawah pusat kota yang pada waktu itu hanyalah sekitar Kesawan dan Kanton dan Jalan Sutomo dibentang drainase primer ukuran tiga kali empat meter. Saluran sekundernya berbentuk oval ukuran sembilan puluh kali seratus duapuluh centimeter. Secara keseluruhan, pusat kota memang sudah dijamin bebas dari genangan, karena air pasti segera melesap ke drainase dan terbuang ke Sei Deli.    
 Nienhuys sangat yakin Medan yang dirancangnya sebagai sebuah kota pusat perkebunan harus berkembang jadi kota madani yang menjamin hak azazi warganya terhadap lingkungan yang sehat dan nyaman. Para pendatang dari mancanegara baik sebagai pengusaha kebun maupun pedagang harus merasa Medan adalah kota yang sangat layak untuk dikunjungi dan dihuni. Semua disediakan. Lapangan Benteng dibangun sebagai sebuah lapangan bola yang tetap kering walau bermain dalam suasana hujan. Lapisan ijuk dan pasir di bawahnya menjamin tidak akan ada genangan air. Kantor pos dan rumah sakit dirancang dan dibangun sangat layak, bahkan sampai saat ini. Ada De Zon di hadapan restauran Tip Top sebagai supermarket. Ada hotel, perkantoran, pertokoan yang memenuhi semua kebutuhan pengusaha besar. Semua merupakan areal bebas banjir. Ruang terbuka hijau ditumbuhi dengan tanaman mahoni, asam jawa, mangga dan bunga tanjung. Pusat perdagangan (central pasar) dibangun sangat manusiawi. Bahkan Jakarta saja baru dekade terakhir ini memiliki pasar tradisional seperti yang telah dimiliki Medan sejak lama. Sayang bangunan tersebut musnah dilalap si jago merah dan tak tergantikan..
Medan sebagai kota bebas banjir bermula dari ide Nienhuys dan diikuti pengelola kota berikutnya dengan konsisten. Selain sungai Belawan di arah Barat, ada Sei Deli di inti kota yang menampung dan menyalurkan air hujan maupun penggunaan domestik. Pengembangan kota dan pertumbuhan penduduk arah Timur juga diantisipasi dengan membangun saluran air buatan. Masuk dari daerah Teladan, melintas di kota Matsum terus ke Sei Kera, direntang saluran air terbuka hingga ke Paluh Pegatalan dan masuk ke Kuala Deli di Muara Sei Deli. Saluran ini cukup lebar dan dalam.  Semua jenis limbah masuk, baik limbah rumah tangga maupun industri. Penguraian bahan organiknya yang kekurangan oksigen menyebabkan air menjadi hitam dan berbau busuk. Saluran terbuka ini memang lebih dikenal sebagai parit busuk. Bila saat ini jalan Ismailiyah tak putus dirundung banjir, tentu ada yang salah dari cara pengelolaan saluran parit busuk. Yang pasti kedalamannya sudah sangat berkurang karena sedimen. Kondisi ini menunjukkan kita tidak memahami fungsi serta tidak tahu cara mengelola saluran air terbuka ini.
Belanda bukan hanya mengantisipasi banjir wilayah pemukiman akibat curah hujan. Banjir di hulu sungai yang berpotensi mengganggu masyarakat Medan karena meluapnya Sei Deli dan Sei Belawan juga sudah diperhitungkan jauh ke depan. Tindakan nyata penyelamatan oleh Belanda adalah dengan menetapkan daerah kedua hulu sungai ini sebagai kawasan konservasi. Lau Debuk-debuk (1924) dan Sibolangit (1938)  di tetapkan sebagai taman wisata dan cagar alam, dan diikuti  Pemerintah RI yang menetapkan hulu Sei Deli dan Sei Belawan ini sebagai daerah dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Daerah Sibolangit memang memiliki arti sangat penting bagi masyarakat Medan. Sejak tahun 1905 Belanda melalui NV Waterleiding Maatschappij telah mendistribusikan air bersih ke Medan yang dikumpul dari daerah Sibolangit. Dengan 27 titik tangkap (bronkaptering), mata air Sibolangit mampu memasok air bersih mencapai enam ratus liter perdetik. Bila dikelola dengan baik, hutan di sekitar daerah hulu Sei Deli dan Sei Belawan selain dapat memasok air bersih, juga dapat meredam terjangan banjir bagi wilayah Medan.  Kembali disayangkan, daerah yang seharusnya hutan rimbun sekarang rusak karena alih fungsi lahan yang tak terkendali.
Tahun 1956, Medan mengalami banjir dahsyat. Hutan saat itu masih baik. Tegakan pohon maupun lapisan humus di lantai hutan belum terganggu. Mengapa masih terjadi banjir?. Penyebab banjir bukan hanya kerusakan hutan. Curah hujan yang tinggi, penyempitan badan sungai dan sedimen, serta kondisi kedalaman kuala muara sungai merupakan faktor lain yang juga jadi penentu kualitas banjir. Tahun 1956 banjir terjadi karena hujan lebat terus menerus selama tiga hari. Tahun 2009 bulan September, kualitas genangan yang hampir sama di kota Medan terjadi hanya disebabkan hujan selama tiga jam. Tanggal 29 Desember 2001 terjadi banjir yang sama kualitasnya dengan tahun 1956. Mungkin bisa dinyatakan sebagai banjir lima puluh tahunan.  Hanya berselang lima belas hari (14 Januari 2002), terjadi banjir yang sama kualitasnya dengan tahun 1956. Tentunya banjir kedua ini tidak bisa lagi dinyatakan sebagai banjir siklus lima puluh tahunan.

Kota Medan membentang miring mulai dari Selatan hingga Utara di Belawan dengan ketinggian 37,5 hingga 2,5 di atas permukaan laut. Pusat kota yang terletak di ketinggian 25 meter di atas permukaan laut memang tidak pantas jadi pelanggan banjir. Banjir di Medan tidak dapat disalahkan karena faktor alam semata. Medan memiliki dua saluran drainase alami besar, dan satu buatan. Masih ada lagi saluran alami lainnya yang membelah kota Medan seperti Sei Bandera, Sei Sikambing, Sei Putih, Sei Babura dan Sei Sulang-Saling. Sayang sekali tidak dimanfaatkan dengan baik. Sungai Deli dan Sei Kerah atau parit busuk sudah mengalami pendangkalan parah hingga ke muara. Lebih tigaperempat areal Kuala Deli sebagai muara Sei Deli dan Parit Busuk sudah dipenuhi sedimen. Drainase di seluruh areal kota Medan hampir dipenuhi sedimen dan gulma. Pengorekan yang dilakukan secara sporadis dan hasil korekan yang tidak langsung diangkat, tetap jadi masalah bagi masyarakat.
Makin rendahnya perbandingan lahan yang mampu menyerap air dan kedap air, menyebabkan semua curah hujan sangat potensial jadi penyebab banjir. Sistem drainase lama tidak berfungsi dan belum diperbaiki. Limpasan air dari bangunan baru justru menambah beban lagi. Mengembangkan kota Medan terlihat tidak lagi mengutamakan pembangunan sistem drainase seperti yang dicontohkan Belanda tempo doeloe. Seharusnya inspeksi pertama dalam penerbitan izin bangunan ditujukan pada sistem drainase, baik dalam bangunan maupun secara umum pada satu wilayah hingga ke saluran primer. Karena ketidak pahaman, sistem drainase pembangunan daerah baru seakan tidak diselaraskan sistemnya dengan drainase yang telah ada. Tidak ada evaluasi daya tampung dan efektivitas alirannya. Pembangunan baru seakan tidak boleh dihambat. Kalau nanti akibatnya ada aliran air yang terhambat, itu lain cerita. Bukankah pembangunan  perlu berlanjut. Perbaikan drainase dan jalan yang cepat rusak karena selalu tergenang air, juga merupakan keberlanjutan  pembangunan.
Bila masih ada yang bertanya, kok Medan bisa jadi kota pelanggan banjir?. Jawabannya jelas karena pengelolaan lingkungannya yang tidak benar.  Pengelolaan termasuk kebiasaan masyarakat, perencanaan pengembangan dan pemeliharaan serta mungkin juga alokasi anggaran serta pengawasan pelaksanaannya. Sebenarnya tidak ada alasan masih membiarkan Medan jadi pelanggan banjir. Pengetahuan, teknologi, institusi,  organisasi, dana dan data cukup tersedia untuk dimanfaatkan. Hanya efektivitas perlu ditingkatkan agar semua tepat guna, tepat cara dan tepat hasil. Mungkin perlu model kepemimpinan yang memahami masalah dan memiliki kemampuan dan tanggungjawab merealisirnya. Kita berharap tahun  2010 masyarakat dapat memilih Walikota yang memiliki visi untuk mewujudkan kembali Medan yang bebas banjir, karena dulu dirancang memang seperti itu. 

Sabtu, 25 September 2010

DANAU TOBA, PEMANFAATAN DAN PERMASALAHANNYA

         Salah satu kekayaan alam Sumatera Utara yang paling luar biasa adalah Danau Toba. Danau Toba merupakan danau volkano tektonik. Letusan gunung Toba yang terjadi sekitar 75.000 tahun lalu mengakibatkan terjadinya luncuran magma sebanyak 2.800 Km3, sehingga perut bumi menjadi kosong.  Kulit bumi yang tidak mampu menahan beban akibat beratnya sendiri, akhirnya patah dalam beberapa potongan. Potongan terbesar menjadi Pulau Samosir. Bahagian lain terisi air. Terbentuklah Danau Toba sebagai danau terluas di dunia. Luas permukaan air danau adalah 1.130 Km2, daerah tangkapan air 3.698 Km2, kedalaman 505 m, panjang 110 km dan lebar 30 km. Volume air Danau Toba diperkirakan 1,18 triliyun meter kubik. Pulau Samosir yang merupakan pulau dalam pulau terluas di dunia memiliki luas 630 km2.  Kejadian letusan Gunung Toba dinyatakan sebagai letusan gunung berapi terdahsyat selama 25 juta tahun terakhir. Debu yang disemburkan pada kejadian letusan menyebar ke seluruh bumi. Ketebalan debu yang jatuh di India mencapai 15 cm dan di sebahagian Malaysia bahkan mencapai ketebalan 9 meter. Bumi mengalami penurunan temperature ±3,50C akibat bertahun-tahun tertutup debu, sehingga dinyatakan sebagai penyebab terjadinya zaman es.  
Kejadian pembentukannya yang sangat luar biasa menciptakan Danau Toba sebagai bentang alam yang maha indah. Potensi Danau Toba sebagai tujuan wisata alam sangat besar. Hampir seluruh wilayah memiliki nilai keindahan yang luar biasa. Banyak misteri dari berbagai sisi Danau Toba yang masih belum terungkap, atau bahkan sudah musnah sebelum diketahui rahasianya. Daratan Samosir yang terbentuk dan terpisah dari daratan pulau Sumatera pasti memiliki keunikan fauna flora tersendiri. Kita bahkan belum banyak mendapatkan data flora fauna endemik tersebut, padahal sebagian besar wilayah hutan di daratan Samosir sudah rusak. Kita sedang menjadi saksi sejarah terjadinya perpacuan kerusakan keindahan dan penurunan kualitas keanekaragaman hayati dan lingkungan Danau Toba karena kebijakan pertumbuhan pembangunan yang tidak berpihak melestarikannya.
Pertumbuhan peradaban manusia yang menyandarkan kualitas hidupnya pada ketersediaan air, menyebabkan terjadinya  penyebaran penduduk pada seluruh wilayah sekitar pinggiran Danau Toba di daratan Sumatera maupun daratan Samosir. Saat ini sudah terdapat 123 pemukiman masyarakat di pinggir Danau Toba pada wilayah Pulau Sumatera, dan 71 pemukiman di Pulau Samosir. Lemahnya pengawasan terhadap pelestarian daerah danau sebagai kawasan lindung, dapat dilihat dengan banyaknya bangunan yang didirikan di bibir pantai, bahkan dengan mengurug danau. Hal ini juga berarti pelanggaran terhadap Perda Nomor 1 Tahun 1990 tentang Penataan Kawasan Danau Toba yang menyatakan bahwa tidak boleh ada bangunan dalam areal 50 meter dari bibir pantai. Pelanggaran ini sekaligus juga melanggar aturan nenek moyang yang mendiami Pulau Samosir, karena pemukiman Raja di Tomok ternyata dibangun sekitar 50 meter dari bibir pantai.
Pemanfaatan Aliran Sei Asahan
Danau Toba merupakan wilayah pengumpul air.  Berdasarkan data dari   Badan Pelaksana Kordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba, dalam wilayah daerah tangkapan air Danau Toba terdapat 205 sungai yang bermuara ke Danau Toba. Dari daratan Sumatera terdapat 142 sungai, termasuk Lau Renun sebagai sungai rekayasa manusia untuk membangkitkan tenaga listrik. Daratan Samosir menyumbang 63 sungai. Satu-satunya saluran keluar air dari Danau Toba hanyalah melalui Sei Asahan dengan debit air alami 87,9 m/detik s.d. 105.4 m/detik. Adanya beda ketinggian dan volume air yang cukup besar, menjadikan Sei Asahan memiliki kandungan energi yang sangat potensial untuk membangkitkan tenaga listrik.
Penyelidikan potensi Sungai Asahan sebagai pembangkit tenaga listrik sudah dirintis sejak tahun 1908. Tahun 1962, Uni Sovyet melakukan penelitian yang merekomendasikan pembangunan pembangkit tenaga listrik. Menurut penelitian tersebut, sepanjang Sungai Asahan terdapat lima titik air terjun yang potensial menghasilkan listrik yaitu Simangkuk 120 MW, Simorea 150 MW, Sigura-Gura 320 MW, Tangga 412 MW dan Tratak 200 MW. Total potensi perkiraan listrik yang bisa dibangkitkan dari aliran Sungai Asahan adalah 1.202 MW. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan manfaat dan tujuan pembangunan pembangkit listrik Sei Asahan adalah untuk: (a) memproduksi bauksit dari Pulau Bintan dengan kapasitas 200.000 ton/tahun, (b) mengembangkan industri rakyat di Sumatera Utara, (c) memenuhi kebutuhan penerangan listrik untuk rakyat. Dan (d) memperluas areal persawahan dengan sistem pengairan teknis yang teratur dengan instalasi pompa air bertenaga listrik.  Tujuan dan manfaat Sei Asahan ini bahkan dijadikan bahan ajar bagi peserta didik di Sumatera Utara, sehingga semua masyarakat tahu bahwa bila Sei Asahan sudah dimanfaatkan, maka masyarakat Sumatera Utara tidak akan kekurangan listrik. Walaupun pada akhirnya ide pembangkitan listrik dari Sei  Asahan tercapai,  namun sejak pembangkit listrik mulai dioperasikan hingga sekarang,  seluruh tujuan dan maksud pembangunan PLTA yang telah ditetapkan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara sedari awal, tidak ada satupun yang tercapai.
Tanggal 7 Juli 1975, Jepang melalui PT Indonesia Asahan Aluminium telah merealisir pemanfaatan aliran Sungai Asahan dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air Asahan II di Sigura-Gura dengan kapasitas turbin 4 x 73,2 MW dan Tangga 4 x 81.1 MW (total kapasitas terpasang 617,2 MW) dan mulai beroperasi pada tahun 1983,. Pada waktu PT Inalum akan beroperasi, muka air Danau Toba adalah 904,3 m dpl. PT Inalum mengeruk dasar sungai Asahan dari Porsea hingga Siruar sepanjang 13,6 km hingga dasarnya mencapai ketinggian 901 m. Pada kondisi ini, turbin akan tetap dapat beroperasi sampai muka air terendah 902,4 meter. Dengan dibangunnya bendungan pengatur di Siruar, tinggi muka air Danau Toba dapat dikontrol secara mekanis.  Danau Toba menjadi satu-satunya dam alami terluas di dunia. Bendungan pengatur di Siruar efektif hingga ketinggian 905,8m. Bendungan Siruar sekaligus juga menahan dan mengatur ± 5,7 milyar m3 air dengan satu-satunya saluran keluar adalah Sei Asahan. Setelah melalui Kabupaten Asahan dan Tanjung Balai, Sei Asahan bermuara di pantai Timur Sumatera.
 Akibat pengerukan dasar sungai Asahan, terjadi perubahan luas penampang laluan air sehingga kapasitas aliran air semula 75 m3/detik (905 m) menjadi 153 m3/det (902,4 m). Operasional PT Inalum menyebabkan aliran air keluar lebih tinggi dari debit normal, sehingga terjadi pengurangan tinggi muka air Danau Toba secara terus menerus. Penurunan muka air makin meningkat karena pada tahun 1987 terjadi curah hujan di bawah normal. Muka air Danau Toba bahkan mencapai ketinggian hingga 902,66 dpl. Rendahnya curah hujan serta terjadinya kerusakan hutan sebagai pengatur air pada daerah tangkapan air Danau Toba, menyebabkan muka air turun hingga di bawah 903 m. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1990 (902,91m), 1998 ( 902,28m) dan 1999 (902,87m). Pada waktu muka air turun, terbentuklah tanah timbul di sekeliling Danau Toba. Tanah timbul ini dimanfaatkan masyarakat sebagai areal pertanian dan bahkan juga bangunan untuk fasilitas pribadi dan umum. Demikian juga halnya sepanjang aliran Sei Asahan, terjadi tanah timbul karena muka air Sei Asahan juga turun.
Penurunan muka air Danau Toba menyebabkan munculnya konflik di tengah masyarakat dengan berbagai dugaan penyebabnya. Pada saat rendahnya curah hujan, pabrik rayon dan pulp PT Inti Indorayon Utama beroperasi dengan menebangi pohon pada daerah tangkapan air Danau Toba. PT IIU juga dinyatakan telah menanam pohon Eucaliptus yang rakus air. Kekalutan yang luar biasa karena terus menurunnya muka air Danau Toba menyebabkan ada yang berteori bahwa telah terjadi kebocoran di Danau Toba. Sementara pada saat cadangan air danau terus menipis, PT Inalum tetap mengoperasikan pabriknya pada kapasitas hampir penuh. Musim kering menyebabkan banyak sungai di Samosir dan Sumatera menjadi kering. Proyek PLTA Lau Renun yang mengalihkan airnya ke Danau Toba mampu sedikit menyelamatkan defisit neraca aliran air.
Akhir tahun 2008, curah hujan kembali normal dan bahkan di atas normal karena adanya fenomena La Nina. Tinggi air Danau Toba yang mencapai elevasi +905,153 menyebabkan terjadinya overflow. Pada ketinggian air di atas 905 m, tanah timbul yang sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian atau keperluan lain di sekeliling wilayah Danau Toba terendam air. Desember 2008, muka air danau yang terus naik menyebabkan berbagai bangunan yang didirikan di bibir pantai baik di daratan Sumatera seperti di Ajibata maupun Samosir seperti di Pangururan sudah terendam air. Kondisi ini memberikan dilema bagi PT Inalum sebagai pengelola dan operator bendungan Si Ruar. Bila bendungan ditutup, masyarakat di Danau Toba dirugikan dan bahkan dikhawatirkan akan membahayakan kekuatan bendungan. Bila bendungan di Siruar dibuka, masyarakat Asahan akan mengalami masalah karena terjadinya banjir. Secara tetap, air Lau Renun masih juga menambah volume air Danau Toba dengan debit ± 10 m3/detik yang sebelumnya tidak pernah ada. Bila tanpa upaya penanganan serius dan efektif, bencana banjir tetap jadi derita masyarakat Danau Toba atau masyarakat Asahan dan Tanjung Balai. Masuknya aliran air ke Danau Toba masih diperparah lagi dengan tingginya (± 45%) tingkat kekritisan lahan pada DTA Danau Toba.
Kembalikan Manfaat Sei Asahan Pada Tujuan Semula.
Sebagai perusahaan yang mengelola air Sei Asahan, PT Inalum dipastikan tidak dapat melepaskan tanggung jawab terhadap masalah banjir yang terjadi baik di Danau Toba maupun di Asahan/Tanjung Balai. Penyebab utama perubahan muka air Danau Toba adalah karena adanya bendungan di Siruar. Pembayaran annual fee sejak tahun 1985 oleh PT Inalum jelas tidak melepaskan PT Inalum dari kewajiban mengelola lingkungan perairan Danau Toba dan Sei Asahan. Sesuai dengan kewajiban pemrakarsa yang melakukan kegiatan terkait dengan kawasan danau dan sungai, maka PT Inalum harus  membuat laporan berkala perubahan kualitas lingkungan yang terkait dan berdampak dengan kegiatannya. Terjadinya penurunan kualitas lingkungan jelas menunjukkan bahwa upaya pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungannya tidak efektif.
Sejak beroperasinya PT Inalum sampai sekarang dan akan berakhir tahun 2013, potensi sumber daya alam yang sangat luar biasa tersebut ternyata tidak mendatangkan keuntungan yang signifikan bagi pembangunan wilayah Sumatera Utara. Sumatera Utara bahkan pernah mengalami tahun black out akibat kekurangan listrik. Sementara PT Inalum sendiri juga tidak beruntung, karena selama 30 tahun mengoperasikan pabrik peleburan aluminium dalam kondisi terus merugi. Padahal komponen biaya terbesar (± 40%) dalam peleburan aluminium adalah energi listrik yang selama ini diperoleh PT Inalum dengan harga sangat murah. Bahkan pada waktu penyerahannya kembali, bangsa Indonesia  kemungkinan masih menanggung hutang dalam jumlah yang sangat besar.  Menurut data yang dikeluarkan PT Inalum, rata rata produksi selama tigapuluh tahun adalah 173.000 ton/tahun (terendah 163,000 ton/tahun dan tertinggi 222.328 ton.), yang berarti walaupun rugi namun pabrik tetap dioperasikan 86% kapasitas terpasang.
Setelah tahun 2013, Pemerintah sudah memegang hak penuh atas operasional PLTA Asahan II yang mampu membangkitkan listrik sebanyak 617,2 MW. Pembangunan PLTA Asahan I dan III akan menambah pasokan listrik hingga mencapai 951 MW. Sumatera Utara masih memiliki sumber listrik lain dari sebesar 340 MW dari tenaga panas bumi Sibayak dan Sarulla, serta 135 MW dari PLTA/PLTMH lainnya. Bila pembangunan dapat berlangsung tanpa hambatan, maka 2013 dipastikan Sumatera Utara sudah memiliki energi listrik murah serta relatif bebas pencemaran sebesar 1426,2 MW. Ketersediaan listrik dari tenaga air dan panas bumi dapat lebih mengoptimalkan bahan bakar gas bagi keperluan industri yang selama ini hampir dua pertiga terserap untuk pembangkit listrik. Tentu saja dengan pengalaman PT Inalum yang menyatakan terus merugi dalam mengoperasikan pabrik peleburan aluminium, Pemerintah dapat merubah kebijakan untuk tidak lagi memproduksi aluminium. Sebagian besar listrik dapat dimanfaatkan untuk masyarakat. Subsidi listrik tetap perlu diberikan untuk peleburan aluminium guna memenuhi kebutuhan domestik. Namun bila nilai ekonomis listrik lebih tinggi, mengapa pabrik peleburan tidak ditutup saja, sehingga negeri ini bisa terhindar dari pencemaran udara dan air sebagai dampak operasional pabrik. Namun yang paling penting adalah mengembalikan manfaat keberadaan Sei Asahan sesuai tujuan dan impian semula rakyat Sumatera Utara. 
Penutup
Tidak seorangpun dapat membantah bahwa Danau Toba adalah kekayaan sumber daya alam yang tidak terbatas nilai ekonomi dan ekologisnya. Keberadaan air tawar pada posisi ketinggian seperti yang dimiliki Danau Toba jelas memberikan dampak terhadap kesuburan wilayah sekitarnya. Keindahan alam sekeliling Danau Toba merupakan potensi ekonomi yang bisa mendatangkan materi maupun penyejuk rohani. Tentu saja semua potensi akan mendatangkan nilai positif bila dikelola dengan baik dan benar. Tanpa pengelolaan yang tepat dan efektif, Danau Toba hanya setumpuk air yang tidak mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Sei Asahan hanyalah sumber bencana bagi masyarakat di daerah hilirnya, baik karena kiriman enceng gondok, banjir maupun air yang membawa sedimen serta kandungan cemaran tinggi.
Beberapa fakta tidak menguntungkan jelas tidak bisa lagi kita bantah. Parapat yang dulu dikenal sebagai lokasi wisata, tidak lagi menarik dan terhapus dari daftar daerah tujuan kunjungan wisata Nasional. Pemanfaatan lahan sekitar danau serta dalam wilayah perairan yang tidak memperhatikan penurunan kualitas air, menjadikan 94 wilayah danau sudah dikuasai oleh enceng gondok. Pembiaran terjadinya pencemaran air hampir pada taraf tidak layak mendukung kegiatan wisata air.  Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap berbagai pihak yang berusaha dengan memanfaatkan air danau maupun Sei Asahan, ternyata membuahkan bencana, baik dalam bentuk pencemaran maupun kerusakan lingkungan. Kurangnya perhatian memajukan industri wisata bahkan sampai tidak mampu mendorong kawasan Tongging-Silalahi-Panggururan-Tele-Merek yang sudah mulai menggeliat. Lemahnya pengawasan terhadap pembangunan bahkan tidak mampu mencegah berdirinya bangunan di bibir pantai dan tetap membelakangi danau.
Danau Toba tidak lagi bisa dikelola secara tradisional dengan perhatian seadanya. Danau Toba harus dimasukkan dalam jaringan anggota Komisi Danau Internasional dan dijadikan situs dunia. Badan Pelaksana Kordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba, kelompok-kelompok pengembang, lembaga-lembaga pencinta, badan-badan pengelola Danau Toba serta pengusaha harus saling berlomba meningkatkan kesejahteraan serta kesadaran lingkungan masyarakat sekitar Danau Toba demi kelestarian yang lebih alami. Tidak boleh ada masyarakat yang dirugikan baik di hulu maupun hilir Sei Asahan. Perlu dibangun grand design pengelolaan Danau Toba dan meningkatkan peran berbagai pihak untuk berpartisipasi merealisirnya. Semoga kita mampu dan memang harus mampu. (diolah dari berbagai sumber)